PEMBUATAN QANUN

PENYUSUNAN DAN PENETAPAN QANUN

Bagian Kesatu

Umum

Pasal 121

  1. DPRK memegang kekuasaan membentuk Qanun;
  2. Rancangan Qanun baik yang berasal dari DPRK atau Kepala Daerah dibahas oleh DPRK dan Kepala Daerah untuk mendapatkan persetujuan bersama;
  3. Rancangan Qanun yang berasal dari Kepala Daerah disampaikan kepada Pimpinan DPRK dengan Nota Pengantar yang ditanda tangani oleh Kepala Daerah;
  4. Rancangan Qanun yang berasal dari prakarsa DPRK beserta penjelasannya disampaikan secara tertulis kepada Pimpinan DPRK;
  5. Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud ayat (3) dan ayat (4), disampaikan oleh Pimpinan DPRK kepada seluruh Anggota DPRK selambat–lambatnya tujuh hari sebelum Rancangan Qanun tersebut dibahas dalam  Rapat Paripurna;
  6. Rancangan Qanun yang telah disiapkan oleh DPRK, disampaikan oleh Pimpinan DPRK kepada Kepala Daerah.

 

Pasal 122

       Apabila dalam satu masa sidang kepala daerah dan DPRK menyampaikan rancangan peraturan daerah mengenai materi yang sama maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh DPRK, sedangkan rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh kepala daerah digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.

 

Bagian Kedua

Tahapan Pembicaraan

Pasal 123

  1. Pembahasan rancangan qanun dilakukan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Bener Meriah bersama Bupati;
  2. Pembahasan Rancangan qanun dilakukan melalui 2 (dua) tingkat pembicaraan: 
  3. Pembicaraan tingkat I sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
    1. Dalam hal rancangan  peraturan daerah berasal dari kepala daerah dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut:
  4. Penjelasan Kepala Daerah dalam Rapat Paripurna mengenai Rancangan peraturan daerah;
  5. Pemandangan umum fraksi terhadap rancangan peraturan daerah; dan
  6. Tanggapan dan/atau jawaban kepala daerah terhadap pemandangan umum fraksi.
    1. Dalam hal rancangan peraturan daerah berasal dari DPRK dilakukan dengan kegitan sebagai berikut:

 

  1. Penjelasan pimpinan komisi, pimpinan gabungan komisi, pimpinan Badan legislasi daerah, atau pimpinan panitia kusus dalam rapat paripurna mengenai rancangan peraturan daerah;
  2. Pendapat kepala daerah terhadap rancangan perda; dan
  3. Tanggapan dan/atau jawaban fraksi terhadap pendapat kepala daerah.
    1. Pembahasan dalam rapat komisi, gabungan komisi, atau panitia khusus yang dilakukan bersama dengan kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk untuk mewakilinya.
  1. Pembicaraan tingkat II sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
    1. Pengambilan keputusan dalam rapat paripurna yang didahului dengan :
      1. Penyampaian laporan pimpinan komisi/pimpinan gabungan komisi / pimpinan panitia khusus yang berisi proses pembahasan, pendapat fraksi dan hasil pembicaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c; dan
      2. Permintaan persetujuan dari anggota secara lisan oleh pimpinan rapat paripurna.
  2. Pendapat akhir kepala daerah.
  3. Dalam hal persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) huruf a angka 2 tidak dapat dicapai secara musyawarah untuk mufakat, keputusan diambil berdasarkan suara terbanyak.
  4. Dalam hal rancangan peraturan daerah tidak mendapat persetujuan bersama antara DPRK dan kepala daerah, rancangan peraturan daerah tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan DPRK masa itu.

 

 

 

 

 

 

Bagian Ketiga

Penandatanganan Qanun

Pasal 124

 

  1. Rancangan Qanun dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRK dan Kepala Daerah;
  2. Rancangan Qanun yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRK dan Kepala Daerah;
  3. Penarikan kembali Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh DPRK, dilakukan dengan Keputusan Pimpinan DPRK dengan disertai alasan–alasan penarikannya;
  4. Penarikan kembali Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) oleh Kepala Daerah, disampaikan dengan surat Kepala Daerah disertai dengan alasan–alasan penarikannya;
  5. Penarikan kembali Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan dalam Rapat Pembahasan Rancangan Qanun antara DPRK dan Kepala Daerah dengan disertai persetujuan bersama;
  6. Rancangan Qanun yang ditarik kembali tidak dapat diajukan kembali.

 

Pasal 125

  1. Rancangan Qanun yang telah disetujui bersama oleh DPRK dan Kepala Daerah disampaikan oleh Pimpinan DPRK kepada Kepala Daerah untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah;
  2. Penyampaian Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat tujuh hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama.

Pasal 126

  1. Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada Pasal 123 ditetapkan oleh Kepala Daerah dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat tiga puluh hari sejak Rancangan Qanun tersebut disetujui bersama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten dan Kepala Daerah;
  2. Dalam hal Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak   ditandatangani oleh Kepala Daerah dalam waktu paling lambat tiga puluh hari sejak Rancangan Qanun tersebut disetujui bersama, maka Rancangan Qanun tersebut sah menjadi peraturan daerah dan wajib diundangkan;
  3. Dalam hal sahnya Rancangan Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka kalimat pengesahannya berbunyi :  Qanun ini dinyatakan sah;
  4. Kalimat Pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Qanun sebelum Pengundangan Naskah Qanun kedalam Lembaran Daerah.

 

Pasal 127

  1. Qanun sebagaimana dimaksud dalam pasal 121  tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum, Peraturan Perundang–undangan yang lebih tinggi dan Qanun lain;
  2. Qanun sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah;
  3. Qanun yang berkaitan dengan APBK, Pajak Daerah, Retribusi Daerah, dan Tata Ruang Daerah sebelum diundangkan dalam Lembaran Daerah harus dievaluasi oleh Pemerintah Provinsi Aceh;
  4. Qanun yang bersifat mengatur setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah harus didaftarkan kepada Gubernur untuk Qanun Kabupaten.

 

Pasal 128

  1. Qanun hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah;
  2. Persetujuan DPRK ditetapkan dalam Keputusan DPRK.